Selasa, 02 Juni 2020

MAU KULIAH DI PTN DAN BANGGAIN ORANG TUA? SIMAK CERITA INI YUK!

PERJUANGAN LULUS DI KAMPUS ITERA

                Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku selalu diremehkan banyak orang tidak terkecuali keluargaku. Mereka selalu mencemooh dan mengancam beberapa hal kalau aku tidak berhasil kuliah di PTN. Aku terancam tidak bisa kuliah kalau gagal PTN. Maka, aku bertekad untuk bisa tembus PTN tahun 2019. Dengan mengucap kalimat basmallah aku yakin pasti bisa. Waktu itu aku tidak peduli dengan kampus dan jurusannya yang terpenting bisa kuliah tanpa harus gap year.

                Dengan ambisi yang kuat aku memberanikan diri untuk mencari tahu apa saja yang harus dimiliki seorang untuk bisa menjadi mahasiswa. Perlahan aku lepas semua hal buruk yang ada di dalam diri. Meninggalkan semua yang bisa menghambat kesuksesanku untuk bisa kuliah. Apakah semua ini mudah? Whooooo, jangan salah. Awalnya terlihat mudah dan secepat jalan tol, tetapi siapa sangka kalau ada paku yang bertebaran di jalan tersebut. Lantas, apa jalan keluarnya? Jalan keluar terbaik adalah melewatinya dengan keyakinan yang kuat.

                Hari demi hari terus berlalu. Berbagai pendaftaran kampus mulai dibuka. Baik itu PTN maupun PTS. Ingin rasanya mendaftarkan diri ke semua kampus. Mengingat nilai rapotku yang bisa dibilang cukup tinggi. Namun, semua itu sirna karena terkendala biaya. Akhirnya informasi terlewat begitu saja. Tiba saatnya pada pendaftaran SNMPTN. Hal ini disambut baik dan gembira oleh seluruh masyarakat abu-abu karena ini adalah jalur undangan tanpa tes terlebih dahulu. Aku termasuk orang yang malas untuk tes lagi karena aku sudah eneg untuk belajar hal yang itu-itu aja. Oleh sebab itu, aku akan memanfaatkan betul jalur ini. Di akhir pendaftaran SNMPTN aku ada sedikit konflik dengan sahabatku. Konfliknya adalah  kita memilih jurusan dan kampus yang sama. Pilihanku di SNMPTN adalah jurusan Teknik Geologi dan Agroteknologi UNPAD. Aku yang awam tentang jurusan kuliah sangat bingung untuk membuat pilihan SNMPTN. Dengan berbagai saran dan ikhtiar akhirnya aku menemukan dan memilih jurusan tersebut. Bukannya aku egois dan mengambil hak orang lain, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk memilih apa yang terbaik. Walaupun akhirnya aku dan dia “slek” selama beberapa hari. Ini adalah ujian untuk kami untuk bisa sabar dalam menyikapi hal tersebut. Setelah amarah kita reda, kita pun saling bermaafan dan kembali bersahabat.

                Waktu yang dinanti akhirnya datang. Apa itu? Yap benar. Hari pengumuman SNMPTN. Dimana hanya akan muncul dua warna yang menentukan nasib. Merah untuk gagal dan hijau bagi yang berhasil. Pengumuman tersebut bisa dibuka pada jam 13.00 WIB, tetapi jam 01.00 sudah banyak yang memberi kabar kelulusan. Ketika itu aku terbangun disaat angin malam menusuk kulit. Aku membuka handphone dan kubuka Instagram. Disana tertulis info tentang pengumuman kelulusan yang sudah bisa diakses. Aku ingin membukanya, tetapi aku ingin melaksanakan salat dan berdoa terlebih dahulu. Setelah selesai, aku beranikan diri untuk membukanya dan ternyata hasil yang terpampang di layar adalah warna merah yang bertuliskan “Silahkan mengikuti SBMPTN di tahun 2019.” Aku gagal, tetapi sikapku biasa saja. Seolah tanpa beban yang kurasa. Sedih? Tentu ada. Namun, tidak berlarut dan aku tekadkan akan lolos di ujian tulis. By the way, aku lupa memberi tahu kalau impianku itu bisa menjadi mahasiswa di kampus PKN STAN. Aku gagal SNMPTN tidak nangis karena SNMPTN hanya sebagai cadangan. Aku yakin bisa lolos PKN STAN (rasa semangat yang muncul kala itu). Mulai sekarang aku akan lebih fokus dan semangat menghadapi USM PKN STAN. Aku juga masih mempunyai kesempatan di SBMPTN. Namun, aku tidak pernah serius belajar untuk itu. Aku hanya ingin lolos di PKN STAN

                Berbagai seminar dan Try Out USM PKN STAN mulai diadakan oleh berbagai lembaga. Aku tidak mau ketinggalan begitu saja. Walaupun jaraknya cukup jauh aku  tetap akan mengikutinya. Ada satu momen yang mengharukan untukku ketika mengikuti seminar PKN STAN di Cibinong. Kala itu aku pergi sendirian, padahal syarat untuk bisa ikut seminar adalah dengan mengajak orang tua. Dengan modal niat dan tekad yang kuat akhirnya aku bisa mengikuti seminar itu sendirian. Momen mengharukan itu datang saat acara berlangsung. Dimana para orang tua memberi dukungan sambal memeluk anaknya, sedangkan aku hanya bisa tolah-toleh kebingungan dan akhirnya air mataku berjatuhan tanpa sadar. Bukannya aku tidak mau mengajak orang tua. Namun, acara ini adalah ajang promosi bimbel. Aku takut kalau orang tua ikut mereka akan berusaha cari pinjaman agar aku bisa bimbel disitu. Apa aku tidak mau bimbel? Sejujurnya aku sangat ingin, tetapi aku tidak ingin menyusahkan orang tua. Jadi, hal ini kusimpan di dalam hati.

                Day by day semakin dekat dengan SBMPTN. Tahun 2019 adalah tahun yang berbeda karena banyak peraturan baru. Dimana SBMPTN diadakan dua kali dan kita dapat melihat skor dari masing-masing tes. Pada tahun sebelumnya SBMPTN hanya diadakan satu kali dan kita tidak dapat melihat skor. Jadi, boleh dibilang ini tahun keberuntungan. SBMPTN pertama aku memilih tes di Bogor dan SBMPTN kedua di Jakarta. Hmm jaraknya jauh ya? Lumayan lah karena aku tidak hanya sekedar tes, tetapi ingin travelling menghilangkan suntuk di kepala. Kata pepatah “sambil menyelam minum air”. Sebelum tes aku belum memiliki SIM. Maka, aku ingin membuat SIM TANPA NYOGOK. Aku ingin membuktikan statement yang keliru. Banyak yang mengatakan membuat SIM tanpa nyogok itu susah dan ribet. Ternyata gampang dan murah. Aku hanya membayar 150k, sedangkan kalau nyogok antara 400k-700k untuk motor. (maaf keluar jalur hehe…. just information for u all).

                Singkat cerita aku udah selesai tes SBMPTN. Skornya juga sudah bisa aku lihat. SBMPTN ke-1 skorku 521, sedangkan yang ke-2 513. Apakah ini kecil? To be honest aku sangat bersyukur bisa mendapatkan nilai segitu. Why? Sepanjang sejarah catatanku ikut Try Out SBMPTN skorku paling tinggi itu 350Ini suatu hal yang menggembirakan untuk aku yang tidak belajar serius di SBMPTN bisa mendapat nilai >500. Sekarang waktunya memilih kampus dan jurusan. Aku tidak mau salah langkah seperti SNMPTN. Kali ini aku melakukan riset, pemetaan serta analisis menurut beberapa ahli dan pikiranku. Aku menulis beberapa kampus yang sekiranya menjadi tujuan utama dan yang mau menerimaku dengan skor 500. Aku sadar diri kok kalau nilaiku tidak terlalu besar. Jadi, aku tulis kampus di luar pulau Jawa untuk memperbesar peluang untuk lolos. Setelah mempertimbangkan dengan matang, aku mengunci pilihanku di kampus Sumatera, yaitu Teknik Geofisika UNILA dan Teknik Geofisika ITERA (wiiihh gile juga ambil Sumatera, teknik geofisika semua pula). Emang fisikanya udah hebat? Ini pelajaran yang paling aku hindarin, tetapi saat SBMPTN nilai fisika yang paling besar. Finally I choose that.

                After that, aku mau melupakan semua tentang SBMPTN dan kembali fokus untuk persiapan USM PKN STAN. Belajar sekitar >10 jam per-hari. Melalap habis ratusan soal serta pembahasannya dan tidak lupa berdoa. Ketika mengalami kejenuhan untuk belajar di rumah aku mempunyai alternatif untuk belajar di luar, yaitu di Café. Aku mempunyai Café langganan yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Bahkan, ketika aku cuman memiliki uang 20k (18k buat beli Milkshake dan 2k buat bayar parkir hihihihi) aku tetap berangkat ke Café tersebut untuk merileksasikan pikiran. Biasanya aku ke Café dari jam 8 malam-diusir wkwkwk. It’s reall. Aku kalau sudah latihan soal disana suka lupa waktu kalau sudah larut malam. SPG-nya bilang “maaf mas, kami mau tutup”. Dengan rasa bersalah aku pun menghabiskan minumanku dan bergegas pulang. Sometimes, kalau aku belum selesai mengerjakan soal di Café aku lanjut lagi ngerjain di rumah sampai dini hari. Aku sering tidur 3 jam per-hari. Bukan karena aku tidak bisa tidur, tetapi aku ingin buktiin kalau aku bisa.

                Setelah semua persiapan sudah aku lakukan. Saatnya tempur! Aku tes USM PKN STAN jam 07.00 WIB, tanggal 10 Juli 2019. Satu hari sesudah pengumuman SBMPTN yang diumumkan tanggal 9 Juli 2019. Aku tinggal di Depok. Kampus PKN STAN berada di Bintaro, Tangerang Selatan. Jarak dari rumahku ke PKN STN cukup jauh dan rawan macet. Maka dari itu, aku ingin datang H-1 tes. Aku butuh tempat untuk menginap selama sehari. Aku mencari hotel, tetapi harganya mahal. Terlintas dipikiranku untuk menghubungi kaka tingkat yang kukenal di sosial media beberapa bulan yang lalu. Dia bernama Nauval. Orangnya sangat baik dan ramah. Aku nanya ke dia tentang penginapan yang paling murah di dekat kampus PKN STAN. Dia menjawab kalau ada penginapan gratis + makan untuk peserta tes USM PKN STAN. Penginapan itu bernama “Rumah Singgah”. Nama pemilik dari rumah ini adalah Pak Fatur. Beliau merupakan alumni dari PKN STAN. Niat dia membangun Rumah Singgah adalah membantu para peserta tes untuk dapat beristirahat disana sebelum tes berlangsung. Akhirnya aku berangkat dari Depok menuju rumah singgah bersama bunda. Bukannya aku tidak berani sendiri, tetapi bunda memaksa untuk menemaniku.

                Sesampainya di Rumah Singgah, aku terkejut  karena sudah banyak orang yang berasal dari berbagai daerah untuk sama-sama berjuang masuk PKN STAN. Kami saling berkenalan dan bercerita berbagai hal. Walaupun baru satu hari kenal, tetapi rasa kekeluargaannya sudah sangat melekat. Mereka super baik, care, dan ambisius. Disana juga ada kating PKN STAN yang mendampingi kita selama berada di Rumah Singgah. Saking senangnya berada disana aku sampai lupa kalau hari ini adalah pengumuman SBMPTN. Aku sengaja tidak membaca chat dari teman, saudara, bahkan walikelas. Mereka menanyakan tentang kabar kelulusanku. Aku tidak membalas karena ingin membuka pengumuman tersebut setelah tes USM PKN STAN. Namun, ada satu saudaraku yang sangat penasaran dengan kelulusanku. Dia mencari tahu apakah namaku lolos di SBMPTN atau tidak. Sampai akhirnya dia menemukan namaku lolos SBMPTN, tetapi dia ragu karena tidak ada bukti spesifik (mungkin dia menemukan namaku di line today). Alhasil dia menelfon bundaku tepat tengah malam. Dia mengatakan kalau aku lolos dan bundaku disuruh memastikannya. Disaat aku sudah tertidur lelap bunda membangunkanku dengan tergesa-gesa. Bunda nyuruh aku untuk membuka hasil SBMPTN, tetapi aku tidak mau. Bunda tetap memaksaku dan akhirnya aku buka juga. Ternyata yang keluar itu adalah WARNA HIJAU artinya aku LOLOS SBMPTN 2019. Pengumuman itu berisi “SELAMAT ANDA LOLOS SBMPTN 2019 DI INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA PRODI TEKNIK GEOFISIKA”.

Aku langsung sujud syukur dan memeluk bunda. Pada malam itu pukul 01.00 adalah momen bahagiaku. Tangisan kami pun menambah haru suasana tersebut. Aku tidak mau terlalu larut dengan kesenangan karena pagi harinya aku harus tes. Tes di kampus impianku. Namun, aku tidak dapat tidur nyenyak. Pikiranku terganggu oleh pengumuman SBMPTN sehingga terlintas kalimat “Aku kan sudah lolos berarti kalau PKN STAN tidak lolos tidak akan menjadi masalah dong”. Namun, akhirnya aku pun bisa tertidur juga

                Pagi hari telah tiba. Semua peserta tes di Rumah Singgah itu sudah sangat siap termasuk diriku. Namun, ada firasat kalau aku tidak akan lolos PKN STAN tahun ini. Aku tidak tahu kenapa bisa jadi buyar seperti ini. Namun, kututupi semua itu dengan senyuman tipis di bibirku. Kami pun sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat. Kami juga melakukan doa bersama. Setelah semua siap kami berangkat menuju kampus PKN STAN. Sesampainya di PKN STAN, sudah ada ribuan orang mengenakan pakaian hitam putih dengan sepatu pantofel yang siap bersaing satu sama lain. Sebelum memasuki ruangan aku pamit dan meminta doa restu. Dengan mengucap basmallah dan penuh keyakinan aku masuk ke ruangan tersebut dan mengerjakan semua soal dengan serius. Diluar dugaan ternyata aku gagal. TPA, TBI, TIU, dan TWK aku lolos, tetapi TKP aku gagal. Alhasil tahun 2019 aku gagal masuk PKN STAN. Aku keluar ruangan dengan raut wajah yang berkaca-kaca dan segera mencari bunda. Aku menangis sejadi-jadinya. Serasa semuanya sirna begitu saja. Bunda menguatkanku dan memotivasiku agar bisa menerima takdir. Bunda bilang “kamu udah melakukan yang terbaik nak. Kamu harus semangat dan berusaha menerima takdir. Kamu juga udah lolos di ITERA. Berarti tahun ini ITERA yang terbaik buat kamu”. Aku langsung terhenyut dan berusaha untuk tegar. Ketika bunda menyerahkan HP yang aku titipkan padanya, tidak disangka sudah banyak ucapan selamat dari orang-orang yang aku cintai. Mereka memberikan selamat karena aku lolos di ITERA. Seketika aku tersenyum kembali dan semangat untuk menjalani kehidupan perkuliahan disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAU KULIAH DI PTN DAN BANGGAIN ORANG TUA? SIMAK CERITA INI YUK!

PERJUANGAN LULUS DI KAMPUS ITERA                 Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku selalu diremehkan banyak orang tidak terk...